KALENDER


Free Blog Content
BELAJAR BERSAMA - GO GREEN SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG KAMI, NIKMATI SAJIAN DARI BLOG KAMI

Kamis, 13 Oktober 2011

Jaka Tarub

Jaka Tarub


Pada jaman dahulu hidup seorang pemuda bernama Jaka Tarub di sebuah desa di daerah Jawa Tengah. Ia tinggal bersama ibunya yang biasa dipanggil Mbok Milah. Ayahnya sudah lama meninggal. Sehari hari Jaka Tarub dan Mbok Milah bertani padi di sawah.

Pada suatu malam, ditengah tidurnya yang lelap, Jaka Tarub bermimpi mendapat istri seorang bidadari nan cantik jelita dari kayangan. Begitu terbangun dan menyadari bahwa itu semua hanya mimpi, Jaka Tarub tersenyum sendiri. Walaupun demikian, mimpi indah barusan masih terbayang dalam ingatannya. Jaka Tarub tidak dapat tidur lagi. Ia keluar dan duduk di ambengan depan rumahnya sambil menatap bintang bintang di langit. Tak terasa ayam jantan berkokok tanda hari sudah pagi.


Mbok Milah yang baru terjaga menyadari kalau Jaka Tarub tidak ada di rumah. Begitu ia melihat keluar jendela, dilihatnya anak semata wayangnya sedang melamun. “Apa yang dilamunkan anakku itu”, pikir Mbok Milah. Ia menebak mungkin Jaka Tarub sedang memikirkan untuk segera berumah tangga. Usianya sudah lebih dari cukup. Teman teman sebayanyapun rata rata telah menikah. Pikirannya itu membuat Mbok Milah berniat untuk membantu Jaka Tarub menemukan istri.


Siang hari ketika Mbok Milah sedang berada di sawah, tiba tiba datang Pak Ranu pemilik sawah sebelah menghampirinya. “Mbok Milah, mengapa anakmu sampai saat ini belum menikah juga ?”, tanya Pak Ranu membuka percakapan. “Entahlah”, kata Mbok Milah sambil mengingat kejadian tadi pagi. “Ada apa kau menanyakan itu Pak Ranu ?”, tanya Mbok Milah. Ia sedikit heran kenapa Pak Ranu tertarik dengan kehidupan pribadi anaknya. “Tidak apa apa Mbok Milah. Aku bermaksud menjodohkan anakmu dengan anakku Laraswati”, jawab Pak Ranu.


Mbok Milah terkejut mendengar niat Pak Ranu yang baru saja diutarakan. Ia sangat senang. Laraswati adalah seorang gadis perparas cantik yang tutur katanya lemah lembut. Ia yakin kalau Jaka Tarub mau menjadikan Laraswati sebagai istrinya. Walaupun demikian Mbok Milah tidak ingin mendahului anaknya untuk mengambil keputusan. Biar bagaimanapun ia menyadari kalau Jaka Tarub sudah dewasa dan mempunyai keinginan sendiri. “Aku setuju Pak Ranu. Tapi sebaiknya kita bertanya dulu pada anak kita masing masing”, kata Mbok Milah bijak. Pak Ranu mengangguk angguk. Ia pikir apa yang dikatakan Mbok Milah benar adanya.


Hari berganti hari. Mbok Milah belum juga menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan rencana perjodohan Jaka Tarub dan Laraswati. Ia takut Jaka Tarub tersinggung. Mungkin juga Jaka Tarub telah memiliki calon istri yang belum dikenalkan padanya. Lama kelamaan Mbok Milah lupa akan niatnya semula.


Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang sangat senang berburu. Ia juga seorang pemburu yang handal. Keahliannya itu diperolehnya dari mendiang ayahnya. Jaka Tarub seringkali diajak berburu oleh ayahnya sedari kecil. Pagi itu Jaka Tarub telah siap berburu ke hutan. Busur, panah, pisau dan pedang telah disiapkannya. Iapun pamit pada ibunya.


Mbok Milah terlihat biasa biasa saja melepaskan kepergian Jaka Tarub. Ia berharap anaknya itu akan membawa pulang seekor menjangan besar yang bisa mereka makan beberapa hari ke depan. Tak lama kemudian Mbok Milah masuk ke kamarnya. Ia bermaksud beristrihat sejenak sebelum berangkat ke sawah. Maklumlah, Mbok Milah sudah tua.


Tak memakan waktu lama di tengah hutan, Jaka tarub berhasil memanah seekor menjangan. Hatinya senang. Segera saja ia memanggul menjangan itu dan bermaksud segera pulang. Nasib sial rupanya datang menghampiri. Tengah asyik berjalan, tiba tiba muncul seekor macan tutul di hadapan Jaka Tarub. Macan itu mengambil ancang ancang untuk menyerang. Jaka tarub panik. Ia segera melepaskan menjangan yang dipanggulnya dan mencabut pedang dari pinggangnya. Sang macan bergerak sangat cepat. Ia segera menggigit menjangan itu dan membawanya pergi.


Jaka Tarub terduduk lemas. Bukan hanya kaget atas peristiwa yang baru dialaminya, iapun merasa heran. Baru kali ini nasibnya sesial ini. Hewan buruan sudah ditangan malah dimangsa binatang buas. “Pertanda apa ini ?”, pikirnya. Jaka Tarub segera menepis pikiran buruk yang melintas di benaknya. Setelah beristirahat sejenak, ia segera berjalan lagi.


Nasib sial belum mau meninggalkan Jaka tarub. Setelah berjalan dan menunggu beberapa kali, tak seekor hewan buruanpun yang melintas. Matahari makin meninggi. Jaka Tarub merasa lapar. Tak ada bekal yang dibawanya karena ia memang yakin tak akan selama ini berada di hutan. Akhirnya Jaka Tarub memutuskan untuk pulang walau dengan tangan hampa.


Ketika Jaka Tarub mulai memasuki desanya, ia heran melihat banyak orang yang berjalan tergesa gesa menuju ke arah yang sama. Bahkan ada beberapa orang yang berpapasan dengannya terlihat terkejut. Walaupun merasa heran Jaka Tarub enggan untuk bertanya. Rasa lapar yang menderanya membuat Jaka Tarub ingin cepat cepat sampai di rumah.


Jaka Tarub tertegun memandang rumahnya yang sudah nampak dari kejauhan. Banyak orang berkerumun di depan rumahnya. Bahkan orang orang yang tadi dilihatnya berjalan tergesa gesa ternyata menuju ke rumahnya juga. “Ada apa ya ?”, pikirnya. Jaka Tarub mulai tidak enak hati. Ia segera berlari menuju rumahnya.


“Ada apa ini ?”, tanya Jaka Tarub setengah berteriak. Orang orang terkejut dan menoleh kearahnya. Pak Ranu yang memang menunggu kedatangan Jaka Tarub sedari tadi langsung menghampiri dan menepuk nepuk bahu Jaka Tarub. “Sabar nak..”, katanya sambil membimbing Jaka Tarub memasuki rumah.


Mata Jaka Tarub langsung tertuju pada sesosok tubuh yang terbujur kaku diatas dipan di ruang tengah. Beberapa detik kemudian Jaka Tarub menyadari kalau ibunya telah meninggal. Jaka Tarub tak sanggup menahan air mata. Inilah bukti atas firasat buruk yang kurasakan sejak pagi, pikirnya.


Jaka Tarub tak sanggup berbuat apa apa. Ia hanya termenung memandang wajah Mbok Milah. Cerita Pak Ranu bahwa istrinya yang menemukan Mbok Milah telah meninggal dunia dalam tidurnya tadi pagi tak dihiraukannya. Ia merenungi nasibnya yang kini sebatang kara. Jaka Tarub juga menyesal belum memenuhi keinginan ibunya melihat ia berumah tangga dan menimang cucu. Tapi semua tinggal kenangan. Kini ibunya telah beristirahat dengan tenang.


Sepeninggal ibunya, Jaka Tarub mengisi hari harinya dengan berburu. Hampir setiap hari ia berburu ke hutan. Hasil buruannya selalu ia bagi bagikan ke tetangga. Hanya dengan berburu, Jaka Tarub bisa melupakan kesedihannya.


Seperti pagi itu, Jaka Tarub telah bersiap siap untuk berangkat berburu. Dengan santai ia berjalan menuju Hutan Wanawasa karena hari masih pagi. Ketika sampai di hutanpun Jaka tarub hanya menunggu hewan buruan lewat di depannya. Tak terasa hari sudah siang. Tak satupun hewan buruan yang didapat Jaka Tarub. Ia justru lebih banyak melamun.


Karena rasa haus yang baru dirasakannya, Jaka Tarub melangkahkan kakinya kea rah danau. Danau yang terletak di tengah Hutan Wanawasa itu dikenal masyarakat sebagai Danau Toyawening. Ketika hampir sampai di danau itu, Jaka Tarub menghentikan langkah kakinya. Telinganya menangkap suara gadis gadis yang sedang bersenda gurau. “Mungkin ini hanya hayalanku saja”, pikirnya heran.”Mana mungkin ada gadis gadis bermain main di tengah hutan belantara begini ?”.


Dengan mengendap endap Jaka Tarub melangkahkan kakinya lagi menuju Danau Toyawening. Suara tawa gadis gadis itu makin jelas terdengar. Jaka Tarub mengintip dari balik pohon besar kearah danau. Alangkah terkejutnya Jaka Tarub menyaksikan tujuh orang gadis cantik sedang mandi di Danau Toyawening. Jantungnya berdegub makin kencang.


Jaka Tarub memperhatikan satu satu gadis di danau itu. Semuanya berparas sangat cantik. Dari percakapan mereka, Jaka Tarub tahu kalau tujuh orang gadis itu adalah bidadari yang turun dari kayangan. “Apakah ini arti mimpiku waktu itu ?”, pikirnya senang.


Mata Jaka Tarub melihat tumpukan pakaian bidadari di atas sebuah batu besar di pinggir danau. Semua pakaian itu memiliki warna yang berbeda. “Jika aku mengambil salah satu pakaian bidadari ini, tentu yang punya tidak akan dapat kembali ke kayangan”, gumam Jaka Tarub. Wajahnya dihiasi senyum manakala membayangkan sang bidadari yang bajunya ia curi akan bersedia menjadi istrinya.


Dengan hati hati Jaka Tarub berjalan menghampiri tumpukan baju itu. Ia berjalan sangat perlahan. Jika para bidadari itu menyadari kehadirannya, tentu semua rencananya akan buyar. Jaka Tarub memilih baju berwarna merah. Setelah berhasil, Jaka Tarub buru buru menyelinap ke balik semak semak.


Tiba tiba seorang dari bidadari itu berkata “, Ayo kita pulang sekarang. Hari sudah sore”. “Ya benar. Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum matahari terbenam”, tambah yang lain. Para bidadari itu keluar dari danau dan mengenakan pakaian mereka masing masing.


“Dimana bajuku ?”, teriak salah seorang bidadari. “Siapa yang mengambil bajuku ?”, tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis. “Dimana kau taruh bajumu Nawangwulan ?”, tanya seorang bidadari kepadanya. “Disini. Sama dengan baju kalian..”, Nawangwulan menjawab sambil menangis. Ia terlihat sangat panik. Tanpa bajunya, mana mungkin ia bisa pulang ke Kayangan. Apalagi selendang yang dipakainya untuk terbang ikut raib juga.


Karena Nawangwulan tidak menemukan bajunya, ia segera masuk kembali ke Danau Toyawening. Teman temannya yang lain membantu mencari baju Nawangwulan. Usaha mereka sia sia karena baju Nawangwulan sudah dibawa pulang Jaka Tarub ke rumahnya.


Akhirnya seorang bidadari berkata “Nawangwulan, maafkan kami. Kami harus segera pulang ke kayangan dan meninggalkanmu disini. Hari sudah menjelang sore”. Nawangwulan tidak dapat berbuat apa apa. Ia hanya bisa mengangguk dan melambaikan tangan kepada keenam temannya yang terbang perlahan meninggalkan Danau Toyawening. “Mungkin memang nasibku untuk menjadi penghuni bumi”, pikir Nawangwulan sambil mencucurkan air mata.


Nawangwulan kelihatan putus asa. Tiba tiba tanpa sadar ia berucap “Barangsiapa yang bisa memberiku pakaian akan kujadikan saudara bila ia perempuan, tapi bila ia laki laki akan kujadikan suamiku”. Jaka Tarub yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nawangwulan dari balik pohon tersenyum senang. “Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan”, pikirnya.


Jaka Tarub keluar dari persembunyiannya dan berjalan kearah danau. Ia membawa baju mendiang ibunya yang diambilnya ketika pulang tadi. Jaka Tarub segera meletakkan baju yang dibawanya diatas sebuah batu besar seraya berkata “Aku Jaka Tarub. Aku membawakan pakaian yang kau butuhkan. Ambillah dan pakailah segera. Hari sudah hampir malam”.


Jaka Tarub meninggalkan Nawangwulan dan menunggu di balik pohon besar tempatnya bersembunyi. Tak lama kemudian Nawangwulan datang menemuinya. “Aku Nawangwulan. Aku bidadari dari kayangan yang tidak bisa kembali kesana karena bajuku hilang”, kata Nawangwulan memperkenalkan diri. Ia memenuhi kata kata yang diucapkannya tadi. Tanpa ragu Nawangwulan bersedia menerima Jaka Tarub sebagai suaminya.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa rumah tangga Jaka Tarub dan Nawangwulan telah dikaruniai seorang putri yang diberi nama Nawangsih. Tak seorangpun penduduk desa yang mencurigai siapa sebenarnya Nawangwulan. Jaka Tarub mengakui istrinya itu sebagai gadis yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari kampungnya.


Sejak menikah dengan Nawangwulan, Jaka Tarub merasa sangat bahagia. Namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya selama ini. Jaka Tarub merasa heran mengapa padi di lumbung mereka kelihatannya tidak berkurang walau dimasak setiap hari. Lama lama tumpukan padi itu semakin meninggi. Panen yang diperoleh secara teratur membuat lumbung mereka hampir tak muat lagi menampungnya.


Pada suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai. Ia menitipkan Nawangsih pada Jaka Tarub. Nawangwulan juga mengingatkan suaminya itu untuk tidak membuka tutup kukusan nasi yang sedang dimasaknya.


Ketika sedang asyik bermain dengan Nawangsih yang saat itu berumur satu tahun, Jaka Tarub teringat akan nasi yang sedang dimasak istrinya. Karena terasa sudah lama, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang. Tanpa sadar Jaka Tarub membuka kukusan nasi itu. Ia lupa akan pesan Nawangwulan.


Betapa terkejutnya Jaka Tarub demi melihat isi kukusan itu. Nawangwulan hanya memasak setangkai padi. Ia langsung teringat akan persediaan padi mereka yang semakin lama semakin banyak. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini.


Nawangwulan yang rupanya telah sampai di rumah menatap marah kepada suaminya di pintu dapur. “Kenapa kau melanggar pesanku Mas ?”, tanyanya berang. Jaka Tarub tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam. “Hilanglah sudah kesaktianku untuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi”, lanjut Nawangwulan. “Mulai sekarang aku harus menumbuk padi untuk kita masak. Karena itu Mas harus menyediakan lesung untukku”.


Jaka Tarub menyesali perbuatannya. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. Mulai hari itu Nawangwulan selalu menumbuk padi untuk dimasak. Mulailah terlihat persediaan padi mereka semakin lama semakin menipis. Bahkan sekarang padi itu sudah tinggal tersisa di dasar lumbung.


Seperti biasa pagi itu Nawangwulan ke lumbung yang terletak di halaman belakang untuk mengambil padi. Ketika sedang menarik batang batang padi yang tersisa sedikit itu, Nawangwulan merasa tangannya memegang sesuatu yang lembut. Karena penasaran, Nawangwulan terus menarik benda itu. Wajah Nawangwulan seketika pucat pasi menatap benda yang baru saja berhasil diraihnya. Baju bidadari dan selendangnya yang berwarna merah.. !!


Bermacam perasaan berkecamuk di hatinya. Nawangwulan merasa dirinya ditipu oleh Jaka Tarub yang sekarang telah menjadi suaminya. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata orang yang tega mencuri bajunya adalah Jaka Tarub. Segera saja keinginan yang tidak pernah hilang dari hatinya menjadi begitu kuat. Nawangwulan ingin pulang ke asalnya, kayangan.


Sore hari ketika Jaka Tarub kembali ke rumahnya, ia tidak mendapati Nawangwulan dan anak mereka Nawangsih. Jaka Tarub mencari sambil berteriak memanggil Nawangwulan, yang dicari tak jua menjawab. Saat itu matahari sudah mulai tenggelam. Tiba tiba Jaka Tarub yang sedang berdiri di halaman rumah melihat sesuatu melayang menuju ke arahnya. Dia mengamatinya sesaat.


Jaka Tarub terpana. Beberapa saat kemudian ia mengenali ternyata yang dilihatnya adalah Nawangwulan yang menggendong Nawangsih. Nawangwulan terlihat sangat cantik dengan baju bidadari lengkap dengan selendangnya. Jaka Tarub merasa dirinya gemetar. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Nawangwulan berhasil menemukan kembali baju bidadarinya. Hal ini berarti rahasianya telah terbongkar.


“Kenapa kau tega melakukan ini padaku Jaka Tarub ?”, tanya Nawangwulan dengan nada sedih. “Maafkan aku Nawangwulan”, hanya itu kata kata yang sanggup diucapkan Jaka Tarub. Ia terlihat sangat menyesal. Nawangwulan dapat merasakan betapa Jaka Tarub tidak berdaya di hadapannya.


“Sekarang kau harus menanggung akibat perbuatanmu Jaka Tarub”, kata Nawangwulan. “Aku akan kembali ke kayangan karena sesungguhnya aku ini seorang bidadari. Tempatku bukan disini”, lanjutnya. Jaka Tarub tidak menjawab. Ia pasrah akan keputusan Nawangwulan.


“Kau harus mengasuh Nawangsih sendiri. Mulai saat ini kita bukan suami istri lagi”, kata Nawangwulan tegas. Ia menyerahkan Nawangsih ke pelukan Jaka Tarub. Anak kecil itu masih tertidur lelap. Ia tidak sadar bahwa sebentar lagi ibunya akan meninggalkan dirinya.


“Betapapun salahmu padaku Jaka Tarub, Nawangsih tetaplah anakku. Jika ia ingin bertemu denganku suatu saat nanti, bakarlah batang padi, maka aku akan turun menemuinya”, tutur Nawangwulan sambil menatap wajah Nawangsih. “Hanya satu syaratnya, kau tidak boleh bersama Nawangsih ketika aku menemuinya. Biarkan ia seorang diri di dekat batang padi yang dibakar”, lanjut Nawangwulan.


Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadaripun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih. Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik seperti pesan Nawangwulan.



(Dari berbagai sumber)

LUTUNG KASARUNG

LUTUNG KASARUNG

Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.

Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.

Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.

Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.

Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.



KEONG MAS

KEONG MAS

Pada jaman dulu tersebutlah sebuah kerajaan besar di daerah Jawa Timur bernama Daha. Kerajaan ini dipimpin oleh Raja Kertamarta dengan permaisurinya Diah Prameswari. Mereka dikaruniai dua orang putri yang sangat cantik. Yang sulung bernama Dewi Galuh Ajeng Sari dan adiknya bernama Dewi Galuh Candra Kirana.


Kecantikan dua orang putri Kerajaan Daha ini tersebar ke seantero negeri bahkan sampai ke kerajaan kerajaan tetangga. Banyak lamaran yang datang untuk keduanya. Seperti halnya hari itu, Raja Kertamarta menerima kedatangan putra mahkota Kerajaan Kahuripan bernama Raden Panji Inu Kertapati yang ditemani pengawal setianya Danaswala.


Raden Panji Inu Kertapati merupakan putra mahkota Kerajaan Kahuripan. Kelak ia akan menjadi Raja Kahuripan jika ayahandanya mangkat atau mengundurkan diri. Karena itulah Raja Kertamarta dan Permaisuri Diah Prameswari menyambut baik pinangan Raden Panji Inu Kertapati atas putri mereka. Bukankan hal itu berarti salah satu putri mereka kelak akan menjadi permaisuri Kerajaan Kahuripan ?


Dewi Galuh Ajeng Sari sebagai putri tertua merasa yakin bahwa dirinyalah yang akan dipinang oleh Raden Panji Inu Kertapati. Demikian juga dengan Permaisuri Diah Prameswari. Ia juga yakin kalau Raden Panji Inu Kertapati akan melamar putri sulungnya. Namun tidak demikian halnya dengan Raja Kertamarta. Dari tatapan mata Raden Panji Inu Kertapati atas kedua putrinya, ia justru menilai Raden Panji Inu Kertapati jatuh cinta terhadap putri bungsunya Dewi Galuh Candra Kirana.


Untuk memastikan siapakah putri pilihan Raden Panji Inu Kertapati, Raja Kertamarta langsung bertanya “Siapakah putri pilihanmu Raden ? Dewi Galuh Ajeng Sarikah ? atau Dewi Galuh Candra Kirana ?”. Setelah memilih kata kata yang dianggapnya baik, Raden Panji Inu Kertapati menjawab “hamba mohon maaf jika ada yang tersinggung paduka.. hamba meminang Dewi Galuh Candra Kirana untuk menjadi istri hamba..”.


Benar rupanya dugaan Raja Kertamarta. Ia dan istrinya senang sekali dan menerima pinangan Raden Panji Inu Kertapati. Dewi Galuh Candra Kiranapun tak kalah senangnya. Hatinya sangat gembira. Ia tak menyangka Raden Panji Inu Kertapati yang berwajah tampan dan pewaris tahta Kerajaan Kahuripan akan memilih dirinya ketimbang kakaknya. Walaupun demikian, Dewi Galuh Candra Kirana tidak mau terlalu menampakkan rasa senangnya. Selain hal itu tidak layak, ia juga takut Dewi Galuh Ajeng Sari tersinggung. Bukankah lazimnya Raden Panji Inu Kertapati melamar kakaknya ? apalagi ia tau pasti kalau Dewi Galuh Ajeng Sari sangat ingin dipersunting Raden Panji Inu Kertapati.


Tak mau membuang waktu, malam itu juga Raja Kertamarta menggelar pesta pertunangan Dewi Galuh Candra Kirana dan Raden Panji Inu Kertapati. Seluruh warga Daha diundang ke istana. Pesta berlangsung sangat meriah. Penduduk Kerajaan Daha juga merasa senang karena putri bungsu kerajaan yang cantik dan terkenal santun itu akan dipersunting seorang pangeran tampan kerajaan tetangga. Tiada habisnya mereka mengagumi sepasang calon mempelai yang terlihat sangat serasi itu.


Sukacita yang melingkupi kerajaan Daha rupanya tidak dirasakan oleh Dewi Galuh Ajeng Sari. Ia merasa sakit hati Raden Panji Inu Kertapati tidak memilih dirinya. ‘Apa sih kelebihan Candra Kirana”, pikirnya kesal. Tabiatnya yang selalu mau menang sendiri membuat dirinya tidak rela menyaksikan kebahagiaan Dewi Galuh Candra Kirana. Rasa iri yang sangat menimbulkan niat jahat di hatinya. Ia ingin melenyapkan adik kandungnya itu.


Ditengah berlangsungnya pesta, diam diam Dewi Galuh Ajeng Sari meninggalkan istana. Ia menunggang kudanya membelah malam menuju Hutan Dumeling. Tujuannya satu. Ia ingin menemui Nyi Teluh Upaksi, ahli tenung yang terkenal sangat sakti. Dewi Galuh Ajeng Sari sangat yakin, hanya Nyi Teluh Upaksi yang mampu mewujudkan rencana jahatnya.


Nyi Teluh Upaksi yang berumah di tengah Hutan Dumeling merasa senang menerima kedatangan seorang putri kerajaan. Ia mahfum kalau sang putri membutuhkan bantuannya. Setelah beristirahat sejenak, Dewi Galuh Ajeng Sari menceritakan maksud kedatangannya kepada Nyi Teluh Upaksi. Dengan seksama perempuan paruh baya yang kelihatan seram itu mendengarkan tutur kata tamunya.


“Jangan khawatir Gusti Ayu”, kata Nyi Teluh Upaksi dengan suara parau, “hamba akan membantu melenyapkan adik Gusti Ayu tanpa diketahui oleh siapapun”. Dewi Galuh Ajeng Sari keberatan ketika Nyi Teluh Upaksi menawarkan untuk membunuh Dewi Galuh Candra Kirana. Ia hanya ingin adiknya itu menghilang dari kerajaan Daha. Dengan cara begitu dirinya berharap pelan pelan akan dapat menarik simpati Raden Panji Inu Kertapati. Jika rencananya berjalan lancar, tercapailah keinginannya dipersunting Pangeran Kerajaan Kahuripan itu.


Setelah menyusun rencana bersama Nyi Teluh Upaksi, pulanglah Dewi Galuh Ajeng Sari ke Kerajaan Daha. Penghuni kerajaan yang tertidur lelah setelah berpesta semalaman tidak mengetahui kepulangannya. Diam diam Dewi Galuh Ajeng Sari menyelinap ke kamarnya. Rasa lelah yang menyerangnya setelah berkuda semalaman tidak ia hiraukan.


Tiba di kamarnya yang mewah, Dewi Galuh Ajeng Sari mengeluarkan kendi yang dibawanya dari rumah Nyi Teluh Upaksi. Tiba tiba keluar asap hitam dari mulut kendi yang segera berubah wujud menjadi Nyi Teluh Upaksi. “Mari kita ke kamar Candra Kirana sekarang”, ajak Nyi Teluh Upaksi. Ia melihat keraguan di wajah Dewi Galuh Ajeng Sari. “Gusti Ayu jangan takut”, ujarnya,” seluruh penghuni kerajaan ini telah hamba buat tertidur lelap. Mereka tidak akan bangun sebelum urusan kita selesai”, tambahnya.


Dewi Galuh Candra Kirana tertidur lelap ketika Nyi Teluh Upaksi dan kakaknya tiba di kamarnya. Sinar kebahagiaan terlihat diwajahnya yang cantik. Dengan ilmu sihirnya Nyi Teluh Upaksi membuat wujud Dewi Galuh Candra Kirana berubah menjadi seekor keong berwarna emas. Dewi Galuh Ajeng Sari menatap Nyi Teluh Upaksi dan berkata “akan kau apakan keong mas itu ? apa ia bisa kembali menjadi Candra Kirana ?”, tanyanya ingin tau. “Tenang Gusti Ayu”, katanya seraya mengambil keong mas dan meletakkannya di telapak tangannya. “Hamba akan membawa keong mas ini dan membuangnya di tempat yang sangat jauh. Dengan begitu rasanya mustahil keong mas ini dapat bertemu Raden Panji Inu Kertapati “, ujar Nyi Teluh Upaksi meyakinkan Dewi Galuh Ajeng Sari. “Keong mas ini dapat kembali menjadi Candra Kirana jika ia bertemu calon suaminya itu”, suara Nyi Teluh Upaksi terdengar puas. Ia bangga ilmu sihirnya dipercaya oleh seorang putri kerajaan.


Hari menjelang subuh ketika Nyi Teluh Upaksi meninggalkan istana dengan membawa keong mas yang tak lain adalah Dewi Galuh Candra Kirana. Ia menuju ke Jurang Terbil, sebuah jurang yang sangat tinggi dengan air terjun yang meluncur deras nun jauh dipinggir Hutan Dumeling. Nyi Teluh Upaksi membuang sang keong mas disana. Ia berharap keong mas itu segera mati begitu terhempas di dasar jurang.


Kerajaan Daha gempar dengan menghilangnya Dewi Galuh Candra Kirana. Tak seorangpun tahu kemana perginya sang putri. Untuk menutupi kejahatannya, Dewi Galuh Ajeng Sari berpura pura sedih atas hilangnya sang adik. Raja Kertamarta segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk mencari Dewi Galuh Candra Kirana. Seluruh pelosok kerajaan telah dijelajahi namun putri cantik itu tak jua ditemukan.


Sementara itu keong mas bernasib mujur. Air terjun Jurang Terbil malah membawanya masuk ke dalam Sungai Weningan yang terletak di Desa Kemlawe. Pagi itu ada seorang wanita tua penduduk desa yang sedang menjala ikan. Namanya Mbok Jomplang. Tak sengaja keong mas tersangkut di jala Mbok Jomplang.


Sampai menunggu setengah hari, Mbok Jomplang tidak mendapat seekor ikanpun. Matahari yang bersinar sangat terik membuat dirinya lelah. Akhirnya Mbok Jomplang memutuskan untuk pulang. Ketika Ia menarik jalanya, Mbok Jomplang kaget melihat seekor keong berwarna emas tersangkut disana. “Keong apa ini ?”, tanyanya dalam hati. Ia mengamati keong itu sejenak. “Ah sudahlah, kubawa pulang saja keong ini. Manatau keong ini membawa keberuntungan buatku”, putusnya sambil melepaskan keong mas dari jala ikannya.


Mbok Jomplang berjalan pulang dengan menahan rasa lapar. Begitu sampai di rumahnya yang sangat sederhana, Mbok Jomplang segera mengisi tempayan miliknya dengan air. Ia menyimpan keong mas yang ditemukannya barusan disana. Setelah itu Mbok Jomplang makan siang dengan lauk seadanya. Dirinya yang seorang janda dan tidak mempunyai anak serta sanak saudara, jauh dari kecukupan. Pekerjaannya hanya menjala ikan untuk dimakan sendiri. Jika hasil tangkapannya berlebih barulah ia bisa menjualnya ke pasar.


Keesokan paginya Mbok Jomplang pergi ke Sungai Weningan seperti biasa. Lagi lagi nasib sial menghampirinya. Tidak seekor ikanpun ia dapatkan. Setelah menunggu sampai matahari di atas kepala, akhirnya Mbok Jomplang pulang. “Jangan jangan keong mas itu pertanda buruk untukku”, pikirnya sambil melangkah pelan. Perutnya yang perih membuatnya tidak mampu berjalan cepat.


Ketika sampai di depan rumahnya, Mbok Jomplang mencium bau masakan yang lezat. “Mungkin bau masakan tetangga”, duganya sambil melangkah masuk. Alangkah terkejutnya Mbok Jomplang ketika matanya tertuju ke meja makan sederhana miliknya. Berbagai makanan yang kelihatan lezat tersaji disana. Mbok Jomplang mengusap usap matanya. Ia mengira dirinya sedang bermimpi. Setelah tertegun beberapa saat akhirnya Mbok Jomplang makan dengan lahapnya. Perutnya yang lapar membuatnya lupa sejenak akan rasa herannya.


Hari hari berikutnya dilalui Mbok Jomplang dengan keanehan yang sama. Tidak seekor ikanpun ia dapatkan ketika pergi menjala ke Sungai Weningan. Namun demikian dirinya tidak pernah kelaparan. Selalu saja tersedia aneka masakan lezat di meja makannya ketika ia pulang.


Lama lama rasa penasaran menghantui Mbok Jomplang. Ia ingin sekali mengetahui siapa gerangan yang telah menyediakan semua masakan itu untuknya. Suatu siang Mbok Jomplang pulang ke rumah dengan mengendap endap. Ia tidak mau masuk ke rumahnya lewat pintu depan seperti biasanya. Dengan sangat perlahan Mbok Jomplang masuk lewat pintu belakang.


Mbok Jomplang terperanjat melihat sosok seorang wanita cantik yang berada di dapurnya. Demikian juga dengan wanita itu yang tak lain adalah Dewi Galuh Candra Kirana. Setelah saling pandang beberapa saat, Mbok Jomplang bertanya “Siapa engkau ? darimana asalmu ? bagaimana kau bisa ada di rumahku ?”. Rasa heran membuatnya bertanya bertubi tubi.


Dewi Galuh Candra Kirana menceritakan kejadian buruk yang menimpanya. Mbok Jomplang semula ragu akan cerita yang didengarnya. Tapi setelah Dewi Galuh Candra Kirana menceritakan bahwa semua masakan lezat yang tersaji untuknya selama ini merupakan hasil aji penyirup yang dimilikinya, barulah Mbok Jomplang percaya. “Ayahanda membekaliku aji pengirup agar aku bisa memindahkan masakan dari istana ke tempat dimana aku berada”, kata sang putri. Mbok Jomplang serasa bermimpi. Ia tidak menyangka akan bertemu putri Kerajaan Daha dengan cara seperti ini.


Untuk membalas kebaikan hati sang putri, Mbok Jomplang bertekad untuk mempertemukan sang putri yang sekarang berwujud keong mas dengan Raden Panji Inu Kertapati. Hanya itulah satu satunya jalan sebagaimana diceritakan sang putri kepadanya. Mbok Jomplang merasa sedih ketika Dewi Galuh Candra Kirana berubah wujud kembali menjadi keong mas yang berdiam di tempayannya. Perubahan wujudnya yang sementara bisa terjadi atas ijin Yang Mahakuasa.


Nun jauh di Kerajaan Kahuripan, Pangeran Raden Panji Inu Kertapati terusik oleh mimpinya semalam. Ia memanggil pengawal setianya Danaswala dan menceritakan mimpinya kehilangan cincin pemberian Candra Kirana. Danaswala menganggap mimpi Raden Panji Inu Kertapati sebagai pertanda akan suatu kejadian buruk . Sang Pangeran setuju atas usul Danaswala untuk segera berangkat ke Kerajaan Daha.


Begitu sampai di Kerajaan Daha, terjawablah sudah arti mimpi Raden Panji Inu Kertapati. Walaupun sangat terkejut dan sedih begitu mengetahui calon istrinya menghilang entah kemana, ia berusaha tegar. Raden Panji Inu Kertapati yakin Dewi Galuh Candra Kirana masih hidup. Oleh karenanya, atas ijin Raja Kertamarta, sang pangeran bersama Danaswala akan mencari Dewi Galuh Candra Kirana.


Ditengah perjalanan, Raden Panji Inu Kertapati mengusulkan agar dirinya dan Danaswala berpencar. Ia meminta Danaswala untuk melakukan pencarian kearah barat sementara dirinya meneruskan perjalanan kea rah Hutan Dumeling. Entah kenapa kata hatinya menyuruhnya untuk masuk ke hutan yang terkenal angker itu.


Karena banyaknya akar pohon besar yang malang melintang di dalam Hutan Dumeling, tak sengaja kaki kuda Raden Panji Inu Kertapati tersandung. Sang Pangeran dan kudanya jatuh tersungkur dengan keras. Raden Panji Inu Kertapati selamat sedangkan kudanya tergeletak dalam keadaan tak bernyawa. Walau tanpa kuda tunggangan lagi, cintanya yang besar terhadap Dewi Galuh Candra Kirana membuat Raden Panji Inu Kertapati bertekad meneruskan perjalanannya memasuki Hutan Dumeling.


Kondisi hutan yang gelap dan tak tahu arah membuat Raden Panji Inu Kertapati hanya berputar putar di dalam hutan. Karena badannya yang lelah tanpa sengaja iapun tertidur di bawah sebuah pohon. Setelah beberapa lama Sang Pangeran tertidur, ia dibangunkan oleh suara gagak hitam sedang berbicara layaknya manusia yang terdengar sayup sayup dari kejauhan.


Raden Panji Inu Kertapati memasang telinganya mendengarkan baik baik apa yang dibicarakan gagak hitam itu. Aneh sekali, rupanya gagak hitam itu sedang menceritakan kisah cintanya dengan Dewi Galuh Candra Kirana. “Bagaimana dia bisa tahu semua ini ?”, gumam Raden Panji Inu Kertapati. Karena penasaran, Raden Panji Inu Kertapati berjalan mencari dimana gagak hitam berada.


Setelah berjalan sebentar, Raden Panji Inu Kertapati menemukan si gagak hitam sedang bertengger di dahan sebuah pohon. “Kau bisa berbicara gagak hitam ?”, tanyanya antusias. Gagak hitam menjawab “tentu saja, bahkan aku bisa menolongmu menemukan Candra Kirana”, ujarnya yakin. Raden Panji Inu Kertapati merasa sangat gembira. Ia tak menyangka menemukan seekor burung ajaib yang sanggup menolongnya.


Raden Panji Inu Kertapati mengikuti gagak hitam yang menuntun jalannya menuju Jurang Terbil. Gagak hitam mengaku pernah melihat Dewi Galuh Candra Kirana berdiri di pinggir jurang itu. Melihat air terjun yang sangat deras, Raden Panji Inu Kertapati merasa dirinya lemas seketika. “Kau yakin Candra Kirana kemari ?”, tanyanya pada gagak hitam. “Kalau memang benar, pastilah calon istriku itu sudah mati “, gumamnya. Karena rasa putus asa yang menderanya, Sang Pangeran berniat bunuh diri.


“Jangan lakukan itu Raden !”, kata gagak hitam.”Bukankah ada Ajeng Sari yang bisa menggantikan Candra Kirana ?”, tambahnya. Bujukan gagak hitam kelihatannya tidak mampu membuat Raden Panji Inu Kertapati mengurungkan niatnya. Ia terus berjalan menuju bibir jurang.


Tiba tiba muncul seorang kakek berpakaian putih dan berteriak lantang “Hentikan langkahmu Raden ! Kau telah tertipu oleh gagak hitam ini. Candra Kirana masih hidup. Ia ada di suatu tempat”. Raden Panji Inu Kertapati terkejut. “Siapakah kau Pak Tua ?’, tanyanya heran. “Aku Ki Seblakwisa”, kata sang kakek sambil melemparkan tongkatnya kearah gagak hitam. Seketika itu juga gagak hitam berubah wujud menjadi Nyi Teluh Upaksi.


“Inilah Nyi Teluh Upaksi. Dia menyamar menjadi seekor gagak hitam untuk mengelabuimu”, ujar Ki Seblakwisa. Kakek sakti itu memberitahu Raden Panji Inu Kertapati apa yang sesungguhnya terjadi. Nyi Teluh Upaksi sangat marah mendengarkan cerita Ki Seblakwisa. Ia memasang kuda kuda untuk menyerang sang kakek. Nasib naas menimpanya. Kakinya terpeleset di bibir jurang. Tak ayal tubuh Nyi Teluh Upaksi jatuh terhempas di dasar Jurang Terbil dan mati seketika.


Atas petunjuk Ki Seblakwisa, Raden Panji Inu Kertapati meneruskan perjalanannya kearah timur. Disanalah ia akan bertemu dengan Dewi Galuh Candra Kirana yang sekarang berwujud seekor keong mas. Ketika menoleh ke belakang, Raden Panji Inu Kertapati tidak melihat Ki Seblakwisa lagi. Kakek sakti itu telah menghilang.


Perjalanan Raden Panji Inu Kertapati membawanya tiba di pasar Desa Kemlawe. Percakapannya dengan seorang penjual ikan tak sengaja di dengar oleh Mbok Jomplang yang kebetulan sedang berada disana. “Inilah Raden Panji Inu Kertapati”, ujarnya dalam hati sambil memandang tak percaya kearah sang pangeran. Ia mendengar sendiri kalo orang asing itu menanyakan Candra Kirana. “Mungkin inilah petunjuk Yang Mahakuasa”, pikirnya lagi. Tanpa ragu, Mbok Jomplang segera menghampiri Raden Panji Inu Kertapati dan memperkenalkan diri. Tak lama kemudian Mbok Jomplang mengajak sang pangeran ke rumahnya.


Begitu sampai di rumah Mbok Jomplang, Raden Panji Inu Kertapati memasuki rumah itu dengan hati berdebar. Ia berusaha menahan keinginannya yang begitu menggebu untuk berjumpa dengan Dewi Galuh Candra Kirana. Ia duduk di teras rumah menunggu Mbok Jomplang mengambil keong mas dari tempayan.


“Inilah Candra Kirana”, kata Mbok Jomplang sambil menyerahkan keong mas ke tangan Raden Panji Inu Kertapati. Sang pangeran mengambil keong mas itu dan mengamatinya sesaat. “Silahkan Raden meletakkannya di tanah”, kata Mbok Jomplang lagi. Raden Panji Inu Kertapati meletakkan keong mas itu dengan hati hati di tanah. Benar saja, keong mas itu berubah wujud menjadi Dewi Galuh Candra Kirana. Sihir Nyi Teluh Upaksi telah sirna selamanya. Syarat yang ditentukannya telah terpenuhi. Atas ijin Yang Mahakuasa, keong mas dapat bertemu dengan Raden Panji Inu Kertapati.


Setelah melepas rindu, Raden Panji Inu Kertapati dan Dewi Galuh Candra Kirana memutuskan untuk segera kembali ke istana Kerajaan Daha. Mereka membawa serta Mbok Jomplang. Mereka menganggap Mbok Jomplang merupakan kepanjangan tangan Yang Mahakuasa untuk menolong mereka.


Tak terlukiskan kebahagiaan Raja Kertamarta dan Permaisuri Diah Prameswari. Mereka menyambut kedatangan putri bungsu yang menghilang sekian lama dengan rasa sukacita. Segera saja Raja Kertamarta memerintahkan untuk menyelenggarakan pesta besar malam harinya dengan mengundang seluruh warga kerajaan. Semua larut dalam suasana kebahagiaan.


Lagi lagi sukacita yang melingkupi Kerajaan Daha tidak dirasakan oleh Dewi Galuh Ajeng Sari. Kali ini dia bukan hanya iri terhadap adiknya, tapi dia juga takut kejahatannya terbongkar. Tanpa membuang waktu lagi, Dewi Galuh Ajeng Sari diam diam meninggalkan istana. Meriahnya pesta yang tengah berlangsung tidak membuat seorangpun menyadari kepergiannya.


Dewi Galuh Ajeng Sari menunggang kudanya berlari cepat menuju Hutan Dumeling. Tujuannya Cuma satu, Nyi Teluh Upaksi. Dirinya bermaksud meminta bantuan tukang tenung itu lagi untuk membunuh Dewi Galuh Candra Kirana. Dia ingin adiknya itu lenyap selamanya. Dengan begitu bukan hanya kejahatannya yang tertutupi, keinginannya untuk dipersunting Raden Panji Inu Kertapatipun akan segera terwujud.


Begitu sampai di rumah Nyi Teluh Upaksi, Dewi Galuh Ajeng Sari mendapati rumah itu kosong. Dia berpikir Nyi Teluh Upaksi sedang pergi untuk suatu urusan. Karena lelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya Dewi Galuh Ajeng Sari tertidur. Ketika ia bangun, hari sudah pagi. Nyi Teluh Upaksi belum juga kembali.


Di tengah kebingungannya, tiba tiba sebuah keris milik Nyi Teluh Upaksi berbicara kepada Dewi Galuh Ajeng Sari. “Segeralah kau pergi ke Jurang Terbil, Nyi Teluh Upaksi menunggumu disana”. Dewi Galuh Ajeng Sari segera meninggalkan rumah Nyi Teluh Upaksi dan menunggang kudanya dengan kecepatan tinggi menuju Jurang Terbil. Hatinya sudah tidak sabar untuk menemui ahli tenung itu.

Tak berapa lama kemudian sampailah Dewi Galuh Ajeng Sari di pinggir Jurang Terbil. Tak ada seorangpun yang ditemuinya disana. Ia turun dari kudanya seraya matanya terus mencari sosok Nyi Teluh Upaksi. Lamat lamat ia mendengar sebuah suara diantara gemuruhnya air terjun Jurang Terbil. “Aku disini”, terdengar suara Nyi Teluh Upaksi. “Dimana kau Nyi Teluh Upaksi ?”, teriak Dewi Galuh Ajeng Sari penasaran. “Aku disini”, terdengar lagi suara Nyi Teluh Upaksi. “Dimana kau ?”, teriak Dewi Galuh Ajeng Sari sambil terus mencari. “Aku disini. Didasar jurang”, suara Nyi Teluh Upaksi terdengar sangat jelas. Dewi Galuh Ajeng Sari berjalan ke bibir Jurang Terbil. Dia bermaksud melihat ke dasar jurang. Sayang nasib naas menimpanya. Batu tempatnya berpijak sangat licin. Dewi Galuh Ajeng Sari terpeleset. Tubuhnya limbung dan kemudian jatuh ke dalam jurang. Putri raja yang berhati jahat itu terhempas ke dasar jurang dan menemui ajalnya disana.



Selasa, 11 Oktober 2011

Myths About Mount Bromo

JUDUL : Myths About Mount Bromo

it is said that when the gods still down to earth, the Majapahit kingdom under attack from various regions. Confused residents seeking refuge, as well as with the gods. At that moment the gods began to go out to a place, around Mount Bromo.

Mount Bromo is still quiet, upright shrouded in white mist. The gods who came to the place in the vicinity of Mount Bromo, dwells on the slopes of Mount Pananjakan. That's where the sunrise can be seen from the East and sets in the west.

In the vicinity of Mount Pananjakan, where the gods dwell, there are also places hermit. Ascetic works every day just adore and a moment of silence. Once a happy day, the wife gave birth to a boy. His face was handsome, bright light, and a child born of a holy incarnation of the soul. Since birth, the child health and showed incredible strength. When he was born, the son of the ascetic is able to scream. Her hand very tight, kick his legs were strong and not like other children. The baby is named Joko Seger, which means Joko healthy and strong.

In places around Mount Pananjakan, at that time there was a girl born of god incarnation. Her face was beautiful and lovely. He was the only child of the most beautiful in the place. When born, the child does not like the baby is born. He was silent, did not cry when I first sniffed the air. The baby was so quiet, was born without a cry from the womb of his mother. So by her parents, the baby was named Rara Anteng.

From day to day body Rara Anteng grow. Beauty lines clearly visible on her face. Rara Termasyurlah Anteng get to various places. Many of the king's son proposed to her. But the proposal was rejected, because Rara Anteng already captivated his heart to Joko Seger.

One day Rara Anteng groom by a famous pirate and powerful magic. Plows are known to be very bad. Rara Anteng famous sensible not dare refuse to applicants who simply magic. So he asked that made the ocean in the middle of the mountain. With a strange request, applicants considered sacred will not meet his request. Requested that the oceans must be made within one night, which begins at sundown until the finish when the sun rises. Rara Anteng Disanggupinya request it.

Applicants magic had started working on the ocean with a shell tool (coconut shell) and the work was nearing completion. Seeing this reality, the heart Rara Anteng getting restless. How to thwart the ocean that is being done by the plow it? Rara Anteng contemplating his fate, he could not live husband who she did not love. Then he tried to calm herself. Suddenly arising intention to thwart the work of the plow.

Rara Anteng began to pound rice in the middle of the night. Slowly the sound of collisions and friction pestle chickens wake the sleeping. Meandering began crowing cock, as if dawn had arrived, but residents have not started with morning activity.

Plow hear chickens crowing, but the white thread on the east side has not been too visible. Means that dawn comes before its time. After that he was contemplating the bad luck. Shell (Shell oil) used as a tool to dredge sand was tossed and fell face down on the side of Mount Bromo and turned into a mountain called Mount Batok.

With the failure to plow the sea in the middle of Mount Bromo, like liver citalah Anteng Rara. He continued his relationship with his girlfriend, Joko Seger. Later Rara Anteng and Joko Seger as a married couple who are happy, because they both love each other.

Pair Rara Anteng and Jaka Seger build settlements and then ruled in the Tengger region as Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, meaning "Lord of the Tengger The Budiman". Tengger name is taken from the final syllable name Rara Anteng and Jaka Seger. The word means also Tenggering Tengger Budi Luhur or the introduction of high morals, a symbol of eternal peace.

From time to time Tengger people live prosperous and peaceful, but the incumbent does not feel happy, because after a while the couple Rara Anteng and Jaka Tengger housekeeping has not been blessed with offspring. Then it was decided to rise to the top of Mount Bromo to meditate with full faith in the Almighty to karuniai offspring.

Suddenly there are voices that say that meditation magic they will be granted but on condition that when it becomes a descent, the youngest child to be sacrificed to the crater of Mount Bromo, couples and Jaka Seger Roro Anteng menyanggupinya and then he got 25 sons and daughters, but the instincts of people parents still can not bear losing his sons and daughters. Short said the couple Rara Anteng and Jaka Seger broken promise, the gods became angry with threatening to inflict havoc, then pass a state tempest darkens the crater of Mount Bromo belch fire.

Kesuma youngest son terjilat disappeared from view the fire and into the crater of Bromo, concurrent loss of Kesuma magical voice: "My brothers whom I love, I have been sacrificed by our parents and Hyang Widi save you all. Long live the peaceful and serene, worship Hyang Widi. I remind you that every month Kasada on the 14th day hold offerings to Hyang Widi in the crater of Mount Bromo. This custom is followed from generation to generation by the Tengger people and every year a ceremony held at Poten Kasada sea of ​​sand and crater of Mount Bromo.

The Bitter Tongue

JUDUL : The Bitter Tongue


Once in the past in the area Semidang, South Sumatra, there lived a prince named Serunting. Prince was the son of a descendant of Princess Grace giant named. Serunting is a powerful. His power lay in the weeds tananam though not always vibrating in the breeze. No one knows the secret of his power, in addition to himself and his wife.


Serunting wife has a younger brother named Aryan man Cliff. Not intentionally, rice fields and Arya's Serunting located adjacent cliffs. Both fields were separated by trees that lined the bottom filled with fungus. Perhaps because of his fortune, overlooking the rice fungus Arya Cliff turned into plates of gold plates. Serunting envy the fact that because the fungus that overlooks the fields just ordinary fungus.


Envy of continually plagued the hearts Serunting make do with the Aryan Cliff heats. Each time they met, two men were always at loggerheads. Eventually, perkelahianpun arise. But Cliff did not want to fight the Aryan Serunting blindly. He knew Serunting is a powerful.


In order to satisfy his lust to defeat Serunting, Arya Cliff persuade his sister to tell her husband the secret magic. The brother can not stand constantly urged her sister. "If you want to beat Serunting, plug it in the weeds tombakmu though not always vibrate in the wind ..", said his brother once. Arya Cliffs delighted to get what he wanted. Not long after, she began challenging Serunting back to fight against it.


The fight between Aryan Cliff Serunting and lasted more exciting than ever. Arrive at the right time, Arya Cliff spear stuck in weeds as referred to her brother. Yeah, right. Immediately Serunting swayed precariously bloody fall. He was defeated in battle.


Really disappointed Serunting liver. He did not think her heart to betray him. In order to treat his wounds, leaving Semidang Serunting go wandering. He walked to the Mount Siguntang and remained there to meditate.


Days went by. One night, Serunting get directions from god that he will be given kekuaran supernatural if it was able to meet the proposed requirements. Serunting instructed to meditate under a tree until his whole body filled with bamboo bamboo leaves. Serunting menyanggupinya. The next morning he was looking for a bamboo tree which grows not far from where he lived all this time and began to meditate there.


Not feel nearly two years Serunting meditated under the bamboo tree. Leaf bamboo leaf has fulfilled all his body until her skin was not seen again. At that moment the god declared that Serunting will soon receive the occult as promised. Whole words that came out of his mouth will become a reality.


Seruntingpun intention of returning to his hometown, Semidang. Along the way, Serunting try magic he had just had. He said the trees that grow sugar cane on the banks of Lake Ranau "be a stone ...". In an instant the trees were yellowing cane turned into stone. Many people who passed her turned to stone because it is condemned by Serunting. Since then Serunting nicknamed the bitter tongue.


Serunting aware of his words are magical. Although anger and revenge on his wife and sister-in-law still remains, Serunting sought peace with her. Serunting later revealed that not only uses his power to make it a bad thing. Serunting also use it for the good of such change shaved a bald hill into a green forest.

Sigarlaki and Limbat

JUDUL : Sigarlaki and Limbat

In the past in Tondano, North Sulawesi, there lived a powerful hunter named Sigarlaki. He has a servant named Limbat. It has been many years Limbat served faithfully at his master's. Sigarlaki and Limbat were alone at the residence Sigarlaki on the edge of the forest.


On a day Sigarlaki go into the woods to hunt. From the morning until noon, have not got an animal Sigarlaki buruanpun. This never happened before. Sigarlaki so wonder why he was so unlucky that day. "Where animals are animals in the forest?", She asked herself. "Like the earth swallowed them all", he muttered again as he sat under a tree unwind.


Despair began to master Sigarlaki. To be filled belly made her decide to go home. Sigarlaki never bring food when hunting. He was so confident of its reliability over the years. It did not take long for him to get the game. But unfortunately, this time good fortune reluctantly sided with him.


With unsteady steps, Sigarlaki walked home. When he got home, found Limbat Sigarlaki not provide any food for him. "Limbat ... !!!!!, why do not you cook for me?", He asked aloud. Hunger makes anger mixed with disappointment immediately explode. "Excuse me sir ...", replied Limbat who came rushing stumbled. "Inventories are we missing stolen meat ...", he added with a downcast face.


Sigarlaki face flushed Limbat hear. "What did you say? stolen high ???", he asked. "How could there be a thief came in here without you know?", She asked incredulously. Limbat silent. He understand why his master in such a rage. "Maybe the thief was coming when I was washing into the river ..", replied quietly Limbat. He also did not expect anyone who dared to steal the meat in the house.


Emotions which controls heart Sigarlaki Limbat accuse him of spending the meat. "I can not believe ....", He shouted again. "Surely you have spent the flesh ..", he accused with wide eyes. As if struck by lightning Limbat heard the allegations. He did not think his master's heart to do that against him. Limbat also feel very disappointed. Dedication over many years to Sigarlaki was not mean anything.


"Really I do not take the lord's meat ...", said Limbat with his head bowed. "Where after all, maybe I could eat that much meat alone ..", he added trying to convince Sigarlaki. Limbat explanation did not make the anger subside Sigarlaki. He still did not believe in the servant's.


"Tell you what Limbat ...", said Sigarlaki Limbat staring. "If you're innocent, you have to prove it ..", she said. Limbat accept the challenge. He felt he was not a thief. "Well ..", said Limbat. "By the way what I have to membuktikkan if I am not guilty?", He asked curiously.


Sigarlaki paused. "You have to dive in conjunction with the kutancapkan stick to the bottom ..", he said shortly afterwards. "If my stick first appears on the surface, it means you are innocent. But if otherwise, then you're the one who stole the meat ... ", said as he stared Limbat Sigarlaki who stood not far from it.


Limbat proposed terms Sigarlaki feel really weird. "Manalah probably stick it first appeared on the surface than me? Bukahkah stick does not need to breathe? ", He thought in surprise. However, Limbat can not deny his master. Moreover, he wanted to membuktikkan that he was not a thief. Limbat finally let go and follow their Sigarlaki.


Sigarlaki and Limbat walk into a pool that is located not far from home. Arriving there, they both went down into the pond. Limbat asked to dive in conjunction with tertancapnya Sigarlaki stick in the bottom of the pool. Just a few moments, Sigarlaki suddenly saw a boar who was drinking at the pool. He was shocked and immediately pulled out his wand. Sigarlaki threw his stick towards the boar. Unfortunately, the throw misses.


According to the original agreement, should Limbat been proven innocent. However Sigarlaki not want to admit it. He asked Limbat to dive along with the wand that is attached at the bottom of the pond. Soon Limbat Sigarlaki surprised to hear screams. His master raised his cane as he screamed bloody murder. Limbat trying to see what happens. Not unexpectedly, a large crab has bitten Sigarlaki to swollen legs.


Although accused of being a thief, Limbat still trying to help his master. Sigarlakipun immediately realized his mistake. Apart from that Limbat proven innocent, the servant turned out a loyal and kind. Sigarlaki felt legs felt very sore from being bitten by a crab of a punishment for his actions the accused person recklessly.

Legend Lake Centipede

JUDUL :Legend Lake Centipede

In the past there was a kingdom in Muara Kaman, Kutai, led by a beautiful princess named Aji Bedarah White. The princess was so named because if he menyirih and swallow the water, behold, the water mixed with betel nut red was flowing through the throat.


Beauty Princess Aji White Bedarah widely known even to China. Once upon a time there was a king of the country who are interested in beauty news of the princess. And he immediately set sail with his army to Kutai in order to apply for Princess Aji Bedarah White to be his wife.


The arrival of the king of China was welcomed by Princess Aji Bedarah White. As usual, the princess to entertain every guest who visited the kingdom. Similarly, the king of China who became his guests this time. They eat together as a mark of respect for the king.


Princess Aji quietly Bedarah White of the manner of dining guests. Distaste for the way he ate his meals with guests who spent a direct sip. Princess Aji White Bedarah offended. He felt the guest did not respect himself by eating like that.


When finished eating, the princess said directly. "Excuse me sire thousands sorry, we could not accept the proposal Majesty ...", he said, staring at the guest. The king of China was shocked. He did not think his proposal will be rejected. "What's your excuse reject my proposal?", He snapped angrily. "We can not accept applications bersantapnya way people like animals. For us how to eat the king was not rude ... ", replied the Princess Aji Bedarah White as he left. He told guards to escort the guest to the gates of the palace.


How His wrath king of the country of China. Not only because her application was rejected. He also felt himself insulted. Said Princess Aji said White Bedarah very hurt him. Finally the king returned to his country by bringing anger and resentment in the liver.


A few months later, unexpected king of China's return to Kutai. This time he came not to apply, but to attack the kingdom led by Princess Aji Bedarah White. The king brought a lot of troops. They immediately attacked indiscriminately, killing anyone they encountered there.


The royal troops who were deployed Princess Aji White Bedarah overwhelmed their enemies. China's troops from the country a lot. They are also a very formidable force. As a result many of the royal troops were killed. The battle lasted just have to make the number of troops lived only half the kingdom.


Princess Aji Bedarah White who saw the battle from the tower of the palace began to worry. He was soon discharged soldiers will be killed. If that happens, the kingdom shall be taken from China's king. The Princess also believes he will participate killed.


With haste White Princess Aji Bedarah take betel and areca are always available nearby. The Princess began to chew. Soon after he said in his heart, "If magic is passed down to me by my ancestors so, then make it into junk junk sirihku centipede centipedes are attacking malignant Chinese troops from the country ...".


Having said that, Princess Aji Bedarah White stood up and spitting out junk sirihnya through the tower window. He continued to spout junk that chewing betel without stopping. Miraculously, junk betel who sprayed the White Princess Aji Bedarah centipedes, millipedes instantly turn into a vicious attack Chinese troops. Number of centipede centipede's vicious lot. Far more than the number of Chinese troops.


Many Chinese soldiers who fell were killed because of being bitten by centipedes, millipedes were malignant. As a result, the troops began to retreat and eventually ran to their ship. The troops were meant to escape, not least the king who led them. However, malignant centipede centipede had not stopped before it destroyed them all. Centipede centipede's malignant continue to pursue the enemy down to his ship.


The king of China and the rest of his forces finally killed centipedes centipede malignant incarnation junk betel Bedarah White Princess Aji. Even the ships that they tumpangipun sunk into the seabed. Places the sinking of the king of China was then transformed into a place that would later become shallow and broad land overgrown with bushes and shrubs. That place is now known as Lake Centipede in East Kalimantan.


As for the spitting betel junk junk that turns into a centipede centipede's ferocious, Princess Aji Bedarah White disappeared. No one knew where he had gone the princess.

<1>