KALENDER


Free Blog Content
BELAJAR BERSAMA - GO GREEN SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG KAMI, NIKMATI SAJIAN DARI BLOG KAMI

Jumat, 14 Oktober 2011

PROFILE YONGKI A


YONGKY ARIWIBOWO

Yongki Aribowo (ditulis juga Yongki Ariwibowo, lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 23 November 1989; umur 21 tahun) adalah seorang pemain sepak bola profesional yang kini bermain di klub Arema Indonesia. Sebagai penyerang, Yongki memiliki kecepatan, kelincahan, kemampuan mengontrol bola, memanfaatkan perangkap offside, tendangan terukur mematikan, dan sundulan bola-bola atas yang cukup baik. Seperti pemain lain ia juga mempunyai idola, pemain yang ia kagumi adalah striker AC Milan, Filippo Inzaghi. Saat ini ia tergabung dalam Indonesia asuhan Alfred Riedl untuk Piala AFF 2010. Dari tiga kali penampilan ia sudah menabung dua gol, ketika timnas bersua Maladewa dan Timor Leste.

karier klub

SSB Sinar Jaya

Yongki memulai masa sebagai pemain sepak bola di SSB Sinar Jaya, Tulungagung sebagai pemain binaan pada tahun 2004. Disini, bakatnya terlihat dalam kemampuannya menggocek bola, kecepatan saat membawa bola, kelincahan dalam menipu pemain bertahan lawan, dan keahliannya dalam menerobos perangkap offside. Pada tahun 2006, dengan harapan memupuk karier sepak bola profesionalnya, ia kemudian berhenti dari SSB Sinar Jaya untuk bergabung dengan klub profesional pada saat itu yang bernama Perseta.

Perseta

Pada tahun 2006, Yongki bergabung dengan Perseta, namun ia diterima hanya sebagai tim junior. Tidak pupus harapan dengan hanya memasuki tim junior, Yongki terus berusaha keras untuk dapat menembus tim inti.

Di Perseta Junior, talenta Yongki semakin berkembang, tapi justru dia malah sering dibangkucadangkan oleh pelatih Perseta Junior.

PSBI Blitar

Tak betah di Perseta, dia melabuhkan kakinya untuk merumput di klub sepak bola tetangga, PSBI Blitar yang notabene sebagai klub yang kastanya setingkat lebih tinggi dari Perseta. Posisi Yongki sebagai striker yang pandai menempatkan posisi di depan gawang lawan dan memiliki kecepatan lari di atas rata-rata membuat pengurus Persik Kediri tertarik dan merekrutnya sebagi pemain Persik Kediri U-21.

Persik Kediri

Yongki bergabung dengan Persik Kediri U-21 pada musim 2008-2009. Saat bermain bersama Persik Kediri U-21, Yongki tampil sebanyak 25 kali dan mencetak 16 gol.

Walaupun sudah direkrut sebagai pemain Persik Kediri U-21 yang kastanya setingkat lebih tinggi dari PSBI Blitar, lagi – lagi nasib Yongki kurang begitu mujur. Dia lebih sering menjadi pemain cadangan dan kalah pamor dari striker muda lainnya seperti Aan Andik. Sementara tim inti Persik Kediri kala itu penuh dengan penyerang papan atas Indonesia Super League seperti Cristian Gonzales, Budi Sudarsono, dan Ronald Fagundez, sehingga ia kurang diperhitungkan.

Pada paruh musim Indonesia Super League 2009-2010, ia akhirnya mendapatkan kesempatan untuk tampil bersama tim inti, sebanyak 19 kali dan mencetak 7 gol.

Arema Indonesia

Selepas terdegradasinya Persik Kediri dari Indonesia Super League ke Divisi Utama pada Liga Super Indonesia musim 2009-2010, Yongki bergabung dengan klub Arema Indonesia, sebuah klub penghuni Liga Super Indonesia, dengan status Free Transfer, dikarenakan masa kontraknya yang telah habis.

Persisam Putra Samarinda

Pada 13 Oktober 2011, Yongki resmi bergabung dengan Persisam Putra Samarinda.


Legenda Air Terjun Coban Rondo


Legenda Air Terjun Coban Rondo

Dahulu kala ada sepasangan pengantin yang baru melangsungkan pernikahannya. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang akan menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah 36 hari (selapan) menikah, Dewi Anjarwati mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang karena baru “selapan” menikah. Tetapi keduanya bersikeras pergi dengan segala resiko apapun yang akan terjadi di perjalanan.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan Joko Lelono. Tampaknya Joko Lelono tertarik dengan kecantikan Dewi Anjarwati. Selanjutnya Joko Lelono berusaha merebut Dewi Anjarwati dari Raden Baron Kusuma. Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, sebelum berkelahi Raden Baron Kusuma memerintahkan para punakawan (pendamping) agar membawa Dewi Anjarwati ke suatu tempat yang ada Cobannya (air Terjun). Pertempuran antara dua orang ini berlangsung seru. Karena sama mempunyai ilmu yang sama keduanya gugur dalam perkelahian itu.

Dengan meninggalnya Raden Baron Kusuma maka Dewi Anjarwati menjadi jandda atau “rondo” dalam bahasa Jawa. Sejak saat itulah air terjun yang ditempati Dewi Anjarwati lebih dikenal sebagai Coban Rondo. Konon batu besar yang ada dibawah air terjun itu merupakan tempat dudu sang putri.

INFORMASI COBAN RONDO

*. Air Terjun Coban Rondo memiliki ketinggian 84 meter.

*. Air Terjun Coban Rondo berada di ketinggian 1.135 meter dari permukaan laut.

*. Suhu rata-rata +/- 22 derajat Celcius.

*. Coban Rondo pertama kali dipergunakan sebagai obyek wisata pada tahun 1980.

*. Coban Rondo berada di desa Pandansari Kecamatan Pujon Kab. malang.

*. Letak Coban Rondo berada dalam wilayah KPH Perum Perhutani Malang.

*. Debit air terjun pada musim penghujan 150 liter/ detik.

*. Debit air terjun pada musim kemarau 90 liter/ detik.

PRAMUKA INDONESIA


PRAMUKA INDONESIA

gerakan Pramuka Indonesia adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia. Kata “Pramuka” merupakan singkatan dari praja muda karana, yang memiliki arti rakyat muda yang suka berkarya.

“Pramuka” merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi; Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega. Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, Andalan, Pelatih, Pamong Saka, Staf Kwartir dan Majelis Pembimbing.

Sedangkan yang dimaksud “kepramukaan” adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur. Kepramukaan adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Bapak Pramuka Indonesia adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Lambang dari gerakan gerakan ini adalah bayangan tunas kelapa. Lambang tersebut diciptakan oleh Sunardjo Atmodipuro, karena ia berfikir bahwa seluruh bagian dari pohon kelapa bermanfaat. Diharapkan dengan lambang itu, para pramuka bisa memberi banyak manfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitar.

(Dari www.purnayatarigan.blogdetik.com)

TANDA JABATAN


TANDA JABATAN

Lisensi Dipegang Oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia , dapat dipergunakan untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran

Tanda Jabatan bagi Pramuka Penegak dan pandega . Dari kiri ke kanan , atas ke bawah :

  • 1.Pengurus Dewan Ambalan Penegak (Ambalan di Gugus Depan)
  • 2.Pengurus Dewan Racana Pandega (Racana di Gugus Depan)
  • 3.Pengurus Dewan Kerja Ranting Penegak dan Pandega (Tingkat Kwartir Ranting di Kecamatan)
  • 4.Pengurus Dewan Kerja Cabang Penegak dan Pandega (Tingkat Kwartir Cabang di Kota atau Kabupaten)
  • 5.Pengurus Dewan Kerja Daerah Penegak dan Pandega (Tingkat Kwartir Daerah di Propinsi)
  • 6.Pengurus Dewan Kerja Nasional Penegak dan Pandega (Kwatir Nasional)

(Dari berbagai sumber)

Kamis, 13 Oktober 2011

Legenda Putri Pukes


Legenda Putri Pukes

Alkisah pada masa lampau di kampung Nosar, Aceh Tengah, hiduplah sepasang suami istri yang memiliki seorang anak gadis bernama Putri Pukes. Karena sang gadis telah cukup umur, sepasang suami istri itu sangat berharap agar ia segera berjodoh. Siang malam mereka memanjatkan doa agar keinginan mereka segera terlaksana.


Tuhan mendengar doa mereka. Tak berapa lama kemudian, datang sebuah keluarga yang berasal dari Kampung Samar Kilang melamar Putri Pukes. Alangkah bahagianya orang tua Putri Pukes. Setelah melakukan pembicaraan, kedua keluarga sepakat untuk menikahkan anak anak mereka seminggu kemudian.


Kebahagiaan orang tua Putri Pukes mewarnai hari hari dalam keluarga mereka. Aneka persiapan dilakukan untuk menyambut hari pernikahan yang tak lama lagi. Kesibukan membuat sepasang suami istri itu tak menyadari kesedihan yang meliputi hati anak semata wayang mereka.


Meski telah dilamar seorang pemuda tampan, tampaknya Putri Pukes belum siap untuk menikah. Pernikahan yang membuatnya harus meninggalkan orang tua dan kampung halamannya membuat ia bersedih hati. Namun apa daya, Putri Pukes tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Ia memendam kesedihannya dalam hati.


Tibalah saat yang dinanti nanti. Pesta pernikahan Putri Pukes digelar sangat meriah. Banyak tamu yang datang untuk melihat sepasang pengantin yang serasi itu. Senyum senantiasa menghiasi bibir setiap orang yang ada disana. Agar kesedihannya tak nampak, Putri Pukes berusaha tersenyum menyambut para tamu.


Setelah berlangsung beberapa jam, usai sudah pesta pernikahan Putri Pukes. Sesuai adat setempat, orang tua Putri Pukes membekalinya berbagai peralatan rumah tangga untuk dibawanya ke rumah sang suami. Rombongan keluarga dari Samar Kilang bersiap siap hendak kembali ke kampung mereka dengan membawa serta seorang anggota keluarga baru.


Ibunda Putri Pukes memberinya wejangan sebelum sang putri dilepasnya pergi. “Baik baiklah kau dengan keluarga barumu, nak…”, kata sang bunda. “Patuhlah pada suamimu dan hormatlah pada kedua mertuamu…”, tambahnya lagi. Putri Pukes tak sanggup menahan kesedihannya lagi. Air matanya jatuh berderai. Akhirnya ibu dan anak itu menangis sambil berpelukan.


Ketika rombongan telah siap berangkat, sekali lagi ibunda Putri Pukes berpesan pada anaknya. “Jika kau sudah berangkat nanti, janganlah kau menengok ke belakang, nak…”, katanya berbisik di telinga Putri Pukes. Putri Pukes hanya mengangguk. Ia tak sanggup berkata kata.


Rombongan dari Samar Kilang meninggalkan rumah orang tua Putri Pukes ketika hari menjelang sore. Tak disangka, hujan lebat datang mengguyur mereka di tengah jalan. Sang suami segera membawa Putri Pukes untuk berteduh di sebuah gua. Air mata yang mengalir di wajah Putri Pukes bercampur dengan air hujan yang turun deras. Karena hatinya yang sangat sedih, Putri Pukes mengabaikan pesan ibunya. Sebelum masuk gua, Putri Pukes menengok ke belakang. Ia berharap dengan melihat kampungnya dari jauh kesedihannya akan berkurang.


Melanggar pesan seorang ibu ternyata membawa petaka bagi Putri Pukes. Segera saja setelah ia menengok ke belakang, kilat menyambar tubuhnya berkali kali. Seketika itu juga tubuh Putri Pukes berubah menjadi batu.


Hingga kini, tubuh Putri Pukes yang diletakkan dalam sebuah gua masih ada. Gua yang akhirnya terkenal sebagai Gua Putri Pukes itu terletak di Takengon, Aceh tengah. Menurut penjaga gua, batu yang dipercaya sebagai jelmaan tubuh Putri Pukes itu semakin membesar karena air mata sang putri yang kadang kadang menetes berubah menjadi batu. Tak sedikit juga yang percaya, batu itu menitikkan air mata jika orang yang mengunjunginya sedang bersedih hati.


(dari berbagai Sumber)


Asal Usul Danau Toba


Asal Usul Danau Toba

Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa.

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. “Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,” gumam petani.

“Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. “Dia mungkin bidadari yang turun dari langit,” gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. “Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.

Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya. “Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri kepada suaminya.

Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.

Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.


(dari berbagai sumber)

.......::::::Asal Usul Sumpit::::::.............


.......::::::Asal Usul Sumpit::::::.............

Pada masa silam di Pulau Kalimantan terdapat sebuah desa bernama Desa Saing Pete. Uniknya desa ini dipimpin oleh seorang wanita. Sang pemimpin bernama Rerayu. Rerayu sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan senantiasa berusaha membuat rakyat Saing Pete hidup makmur dan sejahtera. Rakyat sangat hormat padanya.


Sehari hari Rerayu tinggal di rumahnya yang besar. Ia ditemani beberapa orang pelayan yang setia mengurus keperluan rumah tangganya. Rumah Rerayu memiliki halaman yang sangat luas. Halaman itu dipenuhi oleh berbagai kandang binatang. Rerayu sangat suka memelihara binatang.


Banyak penduduk yang datang kepada Rerayu untuk menjual binatang peliharaan. Jika Rerayu belum memilikinya, ia pasti akan membelinya. Lama kelamaan halaman rumah Rerayu semakin penuh oleh kandang binatang yang jumlahnya terus bertambah.


Pada suatu ketika ada seorang pemburu yang datang ke rumah Rerayu untuk menawarkan hasil buruannya. Anehnya ia bukan menawarkan binatang. Ia hendak menjual sebuah telur yang ukurannya sebesar kepala orang dewasa.


Rerayu sangat tertarik akan telur tersebut. “Telur apakah ini ?”, tanya Rerayu. “Apakah ini telur burung raksasa ?”, ujarnya sambil mengamati telur tersebut. Sang pemburu juga tidak mengetahui telur apa yang ditemukannya itu. “Tadinya aku bermaksud menggorengnya, tapi telur itu sangat keras. Aku dan istriku tidak berhasil memecahkannya”, jelas si pemburu.


Tanpa berpikir panjang Rerayu setuju untuk membeli telur itu. Ia membayarnya dengan sekeping uang emas. Sang pemburu sangat senang. Ia tak menyangka Rerayu menghargai telur temuannya sangat mahal. Ia segera pamit dan meninggalkan Rerayu yang masih saja mengamati telur itu dengan mata berbinar binar.


Rerayu memutuskan untuk meletakkan telur itu bersama sama dengan telur rajawali yang sedang dierami induknya. Tak disangka burung rajawali miliknya menolak untuk mengerami telur asing itu. Ia menginjak injak telur besar itu. Seperti cerita si pemburu tadi, telur besar itu tidak pecah juga. Akhirnya rajawali kelelahan. Ia diam saja dan kembali duduk mengerami telur itu bersama telur telurnya yang lain.


Hari berganti hari. Rerayu senantiasa menantikan telur besarnya menetas. Ia tidak sabar untuk melihat telur binatang apakah itu. Hingga tibalah pada suatu pagi, datang sang pengurus rumahnya memberitahu Rerayu bahwa telur itu sudah menetas.


Dengan tergesa gesa Rerayu meninggalkan sarapannya dan berjalan menuju kandang burung rajawali. Ia terkejut melihat seekor burung yang besarnya hampir menyerupai burung rajawali peliharaannya. “Jenis burung apakah ini ?”, gumamnya heran. “Baru menetas saja besarnya sudah hampir sebesar induk rajawali. Akan sebesar apa ia nantinya ?”, pikirnya lagi. Walaupun demikian Rerayu sangat senang menyambut kehadiran burung raksasa itu. Ia menamainya si Bulau.


Keberadaan si Bulau segera saja tersebar ke seluruh penjuru desa. Para penduduk datang berbondong bondong ke rumah Rerayu untuk melihat sendiri burung raksasa itu. Banyak penduduk yang terpukau pada si Bulau. Namun demikian tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan burung raksasa itu akan mengancam keselamatan desa nantinya. Apalagi mereka melihat sendiri bagaimana Rerayu sangat memanjakan burung itu. Ia senantiasa memberinya makan daging segar.


Si Bulau tumbuh sangat cepat. Tubuhnya semakin besar. Tak terasa ia telah tumbuh menjadi seekor burung raksasa. Kandang yang dibuat Rerayu untuknya tidak muat lagi. Akhirnya Rerayu membiarkan burung itu terbang bebas. Si Bulau akan pulang jika perutnya lapar.


Rerayu harus menyediakan daging segar yang banyak untuk makan si Bulau. Ia membeli setiap hasil buruan penduduk yang dijual kepadanya. Semakin hari semakin sedikit hasil buruan yang didapat penduduk. Binatang buruan semakin langka karena setiap hari diburu. Akibatnya jumlah daging yang disediakan untuk si Bulau semakin sedikit. Ia terlihat mulai kelaparan.


Si Bulau mulai mengusik penduduk. Ia menyambar ayam peliharaan penduduk. Ketika ayam makin sukar diperoleh, ia mulai menyambar kambing, bahkan sapi. Akibatnya penduduk marah. Mereka mendatangi rumah Rerayu untuk meminta ganti rugi.


Rerayu mulai kewalahan. Harta bendanya mulai habis guna membiayai akibat ulah burung raksasa kesayangannya itu. Tak sedikit penduduk yang datang meminta ganti rugi. Setiap hari ada saja penduduk yang datang ke rumahnya. Karena tak kuasa lagi menanggung semua itu, akhirnya Rerayu mengumumkan bahwa si Bulau bukan miliknya lagi. Oleh sebab itu setiap perbuatan si Bulau bukan tanggung jawabnya lagi.


Karena tidak ada yang bertanggung jawab lagi atas si Bulau, penduduk menganggapnya sebagai musuh yang harus diwaspadai. Mereka tidak mau lengah menjaga binatang ternak miliknya. Akibatnya si Bulau kesulitan mendapat makanan. Pulang ke rumah Rerayupun, ia tidak diberi makan. Kali ini si Bulau benar benar kelaparan.


Si Bulau terbang kesana kemari mencari binatang ternak penduduk. Namun ia tak menemukan seekor binatangpun. Setelah seharian lebih menahan lapar, akhirnya si Bulau mulai ganas. Ia menyambar seorang anak kecil yang sedang bermain di halaman rumahnya. Orang tua sang anak menjerit jerit melihat anaknya dibawa terbang oleh si Bulau. Kejadian ini segera tersebar ke seluruh penjuru desa. Para penduduk Desa Saing Pete geger dibuatnya.


Para tetua adat segera berkumpul. Mereka menyalahkan Rerayu atas kejadian ini. Beberapa tetua adat mengungkapkan kekhawatirannya yang sudah dirasakan sejak si Bulau menetas. Firasat mereka benar adanya. Si Bulau tumbuh menjadi burung raksasa yang mengancam keselamatan para penduduk.


Tak menunggu lama, para tetua adat dan penduduk segera mendatangi rumah Rerayu. Mereka meminta pertanggungjawabannya. Rerayu yang sudah mengetahui perihal si Bulau yang menyambar seorang anak kecil dari para pembantunya, segera keluar rumah menemui para tamunya. Badannya mulai gemetar melihat para penduduk yang berteriak teriak marah kepadanya. Rerayu berusaha sekuat tenaga menenangkan diri.


Para tetua adat kasihan melihat pemimpin mereka yang kelihatan sangat terpukul atas kejadian ini. Mereka membantu menenangkan para penduduk yang marah. Rerayu segera mengajak mereka untuk mencari dimana si Bulau berada. Ia berharap semoga si Bulau belum memangsa anak kecil itu.


Tiba tiba datang seorang penduduk yang mengabarkan ia melihat si Bulau sedang bertengger di pohon besar di pinggir sungai. Rerayu diikuti para penduduk segera mengarah kesana. Tak lupa Rerayu mengerahkan tujuh orang pendekar yang selama ini dipercaya menjaga keamanan kampung.


Benar apa yang dilaporkan seorang penduduk tadi. Dari jauh Rerayu melihat si Bulau sedang bertengger sambil mencengkram seorang anak kecil. Sang anak menangis ketakutan. Suara tangis sang anak membuat para penduduk semakin geram. Mereka tak sabar untuk membunuh si Bulau.


Tujuh orang pendekar kepercayaan Rerayu segera maju. Mereka berjalan mengendap endap. Sementara mereka memanjat pohon tempat si Bulau bertengger dengan perlahan, Rerayu dan para penduduk melihatnya dari jauh. Mereka tak ingin si Bulau mengetahui kedatangan mereka.


Namun apa daya. Penciuman si Bulau sungguh tajam. Ia menyadari keberadaan manusia di dekatnya. Tangisan sang anak semakin keras karena si Bulau mencengkeramnya lebih kuat.


Rerayu tak mampu menahan diri melihat kejadian itu. Ia segera berlari mendekati si Bulau dan berteriak “Hei Bulau..!!, lepaskan anak itu..!!”, teriak Rerayu dengan nada marah. Si Bulau mengenali suara tuannya. Ia segera menengok ke arah Rerayu dan melihatnya sejenak. Tak lama kemudian si Bulau mengeluarkan suara jeritan yang sangat memekakkan telinga sambil mengepakkan sayapnya keras keras. Para pendekar yang sedang berusaha mendekatinya sangat terkejut dan terjatuh dari pohon.


“Sungguh burung tak tahu diri kau Bulau..!!”, teriak Rerayu lagi. “Mengapa kau menyusahkan rakyatku…??”. Kilatan kemarahan terpancar dari mata si Bulau. Tanpa diduga ia mulai memasukkan anak kecil yang dicengkeramnya tadi kedalam mulutnya. Si Bulau memangsa anak itu dengan rakus.


Para penduduk yang melihat kejadian itu menjerit ngeri. Ayah sang anak kalap dan menghampiri Rerayu. Ia bermaksud membunuh Rerayu dengan pisau yang sedari tadi dibawanya. Untunglah para tetua desa berhasil mengamankan Rerayu. Sang ayah terus memaki Rerayu sambil mengancungkan pisaunya “Awas kau… !! kau harus membayar kematian anakku..!! kau harus mati bersama burung keparat itu…!!”, teriaknya berkali kali. Para penduduk berusaha menenangkannya sambil menuntunnya pulang. Sekali lagi terdengar suara lengkingan si Bulau sebelum ia mengepakkan sayapnya meninggalkan kerumunan orang banyak itu.


Rerayu sangat terpukul atas kejadian itu. Ia sungguh menyesal telah memelihara si Bulau dan membiasakannya makan daging mentah. Tapi apa mau dikata. Semua sudah terlambat. Si Bulau sudah menjadi burung raksasa yang ganas. Bukan hanya hewan ternak, ia sudah berani memangsa manusia. Akibat terus memikirkan si Bulau yang mengancam keselamatan penduduk Saing Pete, Rerayu jatuh sakit.


Para tetua desa berkumpul untuk membahas masalah ini. Mereka mendatangi Rerayu di rumahnya. Seorang tetua desa segera menyampaikan maksud kedatangan mereka kepada Rerayu. “Kami pikir kita harus meminta bantuan Nalau dan Maen untuk memusnahkan si Bulau”, katanya diikuti anggukan para tetua desa lainnya.


Rerayu terdiam sejenak mendengar dua nama yang asing di telinganya itu. “Siapa mereka ?”, tanyanya pelan. “Mereka adalah pendekar gagah berani dan relawan. Mereka siap membantu siapa saja yang memerlukan pertolongan tanpa pamrih”, jawab salah satu tetua adat.


Rerayu setuju usul para tetua adat. Ia tak punya pilihan. Apalagi tujuh orang pendekar kepercayaannya sudah tidak bisa diandalkan lagi. Dua orang meninggal dunia dan sisanya terluka parah diserang si Bulau.


Hari itu juga Rerayu mengirim utusannya ke Sio Ori untuk menemui Nalau dan Maen. Sampai disana utusan Rerayu memperoleh informasi bahwa Maen sudah tua, ia menyepi di Liang Dhabung. Nalau bersedia menolong penduduk Desa Saing Pete dengan ditemani Kilip, saudaranya.


Begitu tiba di Desa Saing Pete, utusan Rerayu segera membawa Nalau dan Kilip ke rumah Rerayu. Para penduduk ramai berjalan di belakang rombongan itu. Mereka ingin melihat dari dekat sosok pendekar yang akan menolong mereka.


Rerayu sedikit terkejut melihat sosok Nalau dan Kilip. Dua orang pendekar itu masih sangat muda. Walau demikian hati kecilnya percaya akan kemampuan mereka. Rerayu yakin Nalau dan Kilip sanggup membunuh si Bulau.


Berbeda dengan Rerayu, sebagian besar penduduk meragukan kemampuan Nalau dan Kilip. Mereka diam saja ketika Rerayu meminta kesediaannya untuk membantu. Keganasan si Bulau memangsa seorang anak membuat para penduduk kehilangan rasa hormat pada pemimpin mereka itu.


Rerayu marah karena merasa dirinya tidak dihargai lagi oleh rakyatnya. Para pendudukpun tetap bersikukuh bahwa semua ini tidak akan terjadi jika Rerayu mau mendengarkan mereka sedari awal. Suasana menjadi kacau. Untunglah para tetua adat sanggup menenangkan penduduk. Akhirnya mereka sadar bahwa semua upaya ini untuk membebaskan mereka dari ancaman si Bulau.


Nalau dan Kilip mulai melaksanakan tugasnya. Dengan ditemani beberapa orang penduduk, mereka mulai berjalan menyusuri desa mencari si Bulau. Rerayu tak mau ketinggalan. Ia ikut serta dalam rombongan itu.


Tak membutuhkan waktu lama, rombongan itu melihat si Bulau sedang bertengger di sebuah pohon besar di pinggir desa. Tatapan matanya nampak sayu. Kelihatannya si Bulau mengantuk. Mungkin ia kekenyangan sehabis memakan mangsanya.


Nalau dan Kilip segera mengatur rencana. Mereka meminta Rerayu dan para penduduk melihat saja dari jauh. Mereka khawatir si Bulau sadar dirinya sedang diburu jika didekati beramai ramai.


Nalau dan Kilip berjalan mengendap endap mendekati pohon tempat si Bulau bertengger. Mereka berjalan dari arah yang berlawanan. Nalau memberi tanda pada Kilip untuk menjalankan rencana mereka.


Kilip berhenti melangkah dan mengeluarkan suara mirip suara hewan yang melengking. Nalau segera membalas teriakan Kilip dengan mengeluarkan suara yang sama. Si Bulau yang hampir tertidur marah merasa dirinya diganggu. Ia membentangkan kedua sayapnya dan terbang kea rah Kilip. Si Bulau hendak menyerang Kilip.


Ketika si Bulau hampir mencapai Kilip, Nalau segera meniup senjatanya yang terbuat dari bambu. Lidi lidi yang ujungnya beracun melesat kuat dan menancap di tubuh si Bulau. Burung raksasa itu mulai limbung. Namun demikian Nalau terus saja meniup senjatanya. Hujaman lidi lidi beracun membuat si Bulau berteriak kesakitan. Ia meronta berusaha melepaskan lidi lidi itu dari tubuhnya. Usahanya gagal. Racun yang telah masuk ke darahnya membuat tubuh si Bulau lunglai. Ia jatuh terhempas tepat di depan Kilip.


Kilip yang membawa kapak tak menyia nyiakan kesempatan itu. Ia segera menghampiri si Bulau yang terkulai lemah dan memenggal kepalanya sekuat tenaga. Tak ayal, kepala si Bulau putus, terlepas dari badannya. Matilah sudah burung ganas yang meresahkan penduduk Desa Saing Pete.


Para penduduk yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan bertepuk tangan gembira. Mereka segera berlarian ingin melihat bangkai si Bulau dari dekat. Mereka mengelu elukan Nalau dan Kilip sebagai pahlawan Desa Saing Pete.


Rerayupun ikut larut dalam kegembiraan yang dirasakan penduduk. Ada sedikit rasa sedih menyelinap di hatinya ketika melihat burung kesayangannya mati dengan cara mengenaskan. Tapi demi mengingat keganasan burung itu, Rerayu merasa itulah tindakan yang paling tepat.


Rerayu terkesan akan senjata yang digunakan Nalau. Ia segera menanyakannya pada pendekar muda dari Sio Ori itu. “Senjata apa ini anak muda ?”, tanyanya antusias. Rerayu mengamati senjata Nalau dengan seksama. “Ini namanya sumpit”, jawab Nalau ramah. “Senjata ini terbuat dari bambu. Aku bersedia mengajarkan cara membuatnya jika para penduduk tertarik akan senjata ini”, tambahnya lagi.


Rerayu menyambut gembira niat baik Nalau. Ia segera memerintahkan segenap laki laki di Desa Saing Pete untuk belajar membuat sumpit pada Nalau. Sejak saat itu, Sumpit terkenal sebagai senjata Suku Dayak di Pulau Kalimantan.


(dari berbagai sumber)